Rahasia Mengendalikan Rasa Marah Dan Mengubahnya Menjadi Peluang Kemenangan?

By
Rahasia Mengendalikan Rasa Marah Dan Mengubahnya Menjadi Peluang Kemenangan?

Suatu ketika saya sedang dalam perdebatan yang hebat dengan seorang teman. Kami berdebat dalam banyak hal tapi intinya lebih banyak kepada masalah harapan. “Hidup,” kata teman saya, “tidak perlu pakai pikiran cukup mengikuti kata hati. Sebab pikiran itu lebih banyak mengada-ngada, tapi hati tidak akan pernah bohong. Sehingga kita tidak perlu berharap di dunia ini, sebab harapan bisa membuat kita kecewa.” Dan ia melanjutkan dengan begitu banyak teori yang mendukung pendapatnya.

Tiba giliran saya hanya bertanya, “Kamu belajar begitu pakai hati atau pakai pikiran?

“(setelah cukup lama… mungkin berpikir dulu…) Ya pakai pikiran, tapi walau bagaimanapun kita tetap harus mendahulukan hati. Pikiran hanya ikut ke hati.”

Perhatikan ya, kata-katanya kan tidak sinkron. Ia mengatakan harus mendahulukan hati, dan pikiran harus mengikuti kata hati. Tetapi pada prakteknya, bukankah justru hatinya yang mengikuti pikirannya? Ia belajar ilmu tersebut menggunakan pikiran, kemudian ia membenarkan ilmu itu, dan mengikutinya.

Dulu ketika pertama kali belajar segala macam ilmu tentang law of attraction atau hukum daya tarik pikiran dan segala macam ilmu lainnya, saya merasa begitu hebat. Dan sudah tahu segalanya. Saya merasa paling benar sendiri. Dan ilmu orang lain tidak ada apa-apanya. Dan memang begitulah manusia, ketika kita pertama kali belajar satu hal, apalagi kalau jiwa kita masih muda dan bergejolak, maka kita akan merasa sudah paling tahu segala sesuatu. Dan ini tidak bijak! Saya jatuh!

Perdebatan kami berlanjut begitu lama dan sengit, sehingga sedikit memicu emosi dalam diri saya. Saya tahu betul bahwa konsep yang teman saya ini kemukakan benar-benar berbeda antara teori dan prakteknya. Sebenarnya saya setuju dengan teorinya yang mengatakan kita harus mendahulukan hati daripada pikiran, sebab Pakar Otak Kanan Ippho Santosa mengajarkan untuk mendahulukan otak kanan. Otak perasaan, bukan otak logika. Bisa juga dikatakan hati bukan pikiran. Para pelatih entrepreneur pun seperti Mas Jaya Setiabudi, pendiri Young Entrepreneur Academy mengajarkan dalam membuka usaha misalnya jangan kebanyakan rencana dulu langsung action saja, nanti seiring berjalannya waktu kita akan perbaiki perencanaan kita. Dan guru-guru spiritual saya pun mengajarkan bahwa hati punya frekuensi yang lebih tulus dan hebat daripada pikiran.

Namun yang bikin saya sedikit rada mangkel adalah teori yang tidak sesuai dengan prakteknya, dan merasa paling benar sehingga perlu untuk selalu berteori dan berdebat dengan orang lain. Itu yang saya tidak suka.

Misalnya, ia mengatakan, “kita tidak perlu berharap sebab dengan berharap kita bisa kecewa. Kalau harapan kita itu tidak terjadi.” Bukankah ia tidak sadar bahwa dalam teori ini saja, teori yang ia kemukakan sendiri, justru ia sedang berharap? Ia berharap tidak akan kecewa dengan tidak adanya harapan. See?

Menjawab pertanyaan ini saya cuma bilang, “Memang apa yang salah dengan menjadi kecewa? Apakah akan kiamat?” Kecewa itu manusiawi. Dan dari kekecewaan, kita bisa belajar dan bertumbuh.

Contoh lain, ketika dia mengatakan, “Sebenarnya retorikamu sudah bagus, namun saya rasa…

Belum sempat ia melanjutkan, saya langsung memotong, “Oh.. saya tidak perlu jadi bagus…

Begitupun, saya belum sempat melanjutkan ia memotong, “Salah! Justru kita harus jadi bagus!”

Maksudnya, saya tidak perlu jadi bagus dalam beretorika lantas mendapat pujian manusia, saya cukup menjadi bagus di depan Tuhan saja, maka pasti saya akan benar-benar bagus!” Terang saya.
Anda perhatikan ya, muncul lagi kontradiksi antara kalimatnya sendiri. Dari awal ia mengatakan kita tidak perlu berharap. Tapi dengan bantahannya lagi yang mengatakan, “Salah! Justru kita harus bagus!” artinya apa? Ia sedang berharap!

Begitulah perdebatan kami terjadi cukup hebat. Dan masing-masing merasa bahwa pendapatnya adalah yang paling benar.

Yang ingin saya tunjukkan di sini bukanlah tentang teori teman saya yang kontradiktif satu sama lain, meski memang faktanya begitu. Tapi yang saya ingin kuak adalah diri saya menjadi marah dengan perdebatan itu. Diri saya yang menjadi begitu labil diombang-ambingkan perasaan. Saya menyadari kok saya jadi lemah? Kok saya jadi marah?

Akhirnya saya menemukan bahwa saya menjadi marah karena teman saya ini menyentuh sisi sensitif dalam diri saya. Sesuatu yang saya junjung tinggi yakni ilmu, proses belajar, kerja keras dan harapan. Jujur saya orang yang sangat menghargai nilai-nilai tersebut. Dan semua ini seperti mengguncang harga diri saya. Apalagi teman saya sempat berujar, “Kamu belajar di mana dengan teori begitu?” atau kalimatnya yang terang-terangan mengatakan, “Bisa saya katakan bahwa tingkat intelegensimu masih rendah!” Dan anda tahu ini bagaikan kiamat bagi saya. Ia telah menyentuh sisi paling sensitif dari dalam diri saya.

Dan saya terpancing amarah.

Akhirnya saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri. Apakah saya sedemikian lemahnya? Apakah saya sedemikian labilnya? Lantas bagaimana mengendalikan rasa marah ini? Dan bagaimana menjadi orang yang sangat kuat dalam ketenangan dan kedamaian?

Dalam waktu singkat, perlahan Tuhan membimbing saya.

Rasa amarah itu tidak seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang positif atau negatif. Melainkan sebagai sesuatu kekuatan yang bisa dikendalikan. Dan jika ia dikendalikan ke arah yang positif, maka dampaknya akan sangat terasa dalam diri kita. Perubahan yang terjadi karena rasa amarah yang luar biasa, benar-benar akan dahsyat dan melekat. Jadi rahasianya itu dulu. Jangan menilai kemarahan hanya sampai kepada apakah rasa marah itu baik atau buruk. Sehingga rasa marah itu, tidak untuk ditekan atau dilawan atau dihilangkan sama sekali. Tetapi sadarilah bahwa kemarahan itu kekuatan yang bisa dikendalikan dan diarahkan menuju kesuksesan. Pakar motivasi menyebutnya sebagai “dendam positif”!

Orang-orang sukses, dihina, ditertawakan, dan dianggap gila. Dan sebagai manusia biasa, pasti itu membuat kita marah.  Tapi orang-orang sukses, justru menggunakan rasa marah itu sebagai pemacu dan pemecut untuk membuktikan bahwa ia juga bisa lebih baik dan sukses. Dan ketika mereka berhasil, rasa marah itu akan menghilang dengan sendirinya.

Dan ratusan orang sudah pernah melakukan itu kepada saya. Ungkapan-ungkapan seperti, “kamu mah tidak akan bisa!” atau “jangan mimpi!” atau “Kamu cuma akan begitu-begitu saja seumur hidupmu.” Atau “kalau miskin, ya miskin aja!” dan segala macam penghinaan lainnya, semuanya sudah ditumpahkan di depan muka saya. Ya, kita marah dalam hati itu pasti. Tapi kenapa tidak dikendalikan saja rasa marah itu sehingga kita juga akan sama dengan orang-orang sukses di atas? Dan saya tahu saya akan memilih itu. Saya akan sukses!

Jadi bagaimana mengendalikan rasa marah itu ketika ia datang?

Dalam buku Stuff Happens (and then You fix it) yang ditulis oleh John Alston dan Lloyd Thaxton, dua orang penulis dan pemenang berbagai penghargaan bergengsi, diterangkan bahwa, kuncinya adalah tidak tergelincir untuk mengungkapkannya dalam bentakan, teriakan, omelan, dan amukan. Seringkali amukan akan membuatnya lebih buruk. Anda bisa mengendalikan rasa marah dengan melakukan satu dari hal-hal berikut;
  1. Bicarakan dengan seseorang yang mau mendengar.
  2. Tuliskan apa yang mengganggu anda.
  3. Berolahraga sampai kelelahan; berlari, berjalan atau menari.
  4. Bermeditasi dengan mendengarkan musik.
  5. Cari hal lucu dari kejadian itu.
  6. Pindah ke lingkungan berbeda. Bisa dengan berkumpul dengan orang-orang yang menyenangkan dan mendukung.
  7. Gunakan apapun yang anda pikirkan bisa membantu anda.
  8. Pikirkan kembali dan ubah sudut pandang anda.
Dan anda tahu bagaimana saya melakukannya?

Pertama, saya tanya kepada Tuhan saya. “Ya Allah, apa maksud semua ini? Pasti ada tujuannya engkau menempatkan saya dalam posisi ini? Apakah ini ujian bagi saya agar saya menjadi lebih baik? Bisa juga ini adalah pemberitahuan bagi saya agar semakin memantapkan keyakinan dan ketenangan hati. Saya benar-benar paham bahwa segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan.” Dengan begini kita melatih sikap positif untuk selalu melihat diri (introspeksi diri) apapun yang terjadi di luar. Dan ternyata dampaknya sangat-sangat luar biasa. Saya bukan hanya mendapat ketenangan itu, tapi saya menjadi lebih siap menghadapi dunia dengan sikap terbaik; keceriaan.

Yang kedua, saya menenangkan diri dengan dzikir, ibadah, musik, olahraga, dan apapun yang senang saya lakukan. Dengan begini saya tidak membiarkan diri saya terlarut-larut dalam kemarahan, penyesalan dan emosi negatif. Karena saya tidak punya waktu untuk memikirkan itu.

Yang ketiga, saya menyalurkan perasaan dengan menulis. Jadi bukan hanya kita mengalihkan pikiran kita dari hal yang membuat kita marah, tapi kita menyalurkan ia menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Yang keempat, Saya bertekad untuk terus meningkatkan kualitas diri agar menjadi orang yang lebih baik dan sukses.

Yang kelima, saya mencari inspirasi. Saya membaca kisah-kisah pilu orang-orang sukses. Saya menonton video-video inspirasi di youtube yang membuat saya punya perbandingan dengan apa yang saya alami. Dengan begini saya akan memandang masalah saya ternyata kecil.

Yang keenam, saya bersyukur atas segala sesuatunya.

Demikianlah sepenggal cerita saya dalam mengendalikan rasa marah. Mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk anda. Anda juga punya cerita? sudilah berbagi dengan kami semua di sini. Oia, tahukah anda bahwa angin puting beliung yang sangat berkecamuk mendapatkan kekuatannya dari sebuah pusat yang sangat tenang?

Doa Untuk Menghilangkan Rasa Marah


Salam Sukses,
Saya Edward Rhidwan,
Selalu Positif, Sehat dan Powerful!

0 komentar:

Post a Comment